12:15 PM

KIMARIMONKU, FRASE BAHASA JEPANG

Salah satu satu aspek yang paling hebat dan sesuai dalam bahasa Jepang adalah kimarimonku–kata-kata klise yang ditunjukkan oleh frase bahasa Jepang untuk mengungkapkan ekspresi. Jika kamu tengah belajar bahasa Jepang pasti kamu akan menemukannya, bahkan mungkin menggunakannya, ketika kamu bertemu dengan teman-teman Jepangmu. Biasanya, banyak frase bahasa Jepang diajarkan dalam buku-buku bahasa Jepang standar atau yang lainnya, tapi aku telah menemukan (dan mempelajari) banyak sekali ekspresi atau frase yang hanya digunakan dalam situasi tertentu dan kamu jarang sekali mengalaminya kecuali kamu pernah tinggal di Jepang.

Untungnya, dewasa ini semakin banyak orang yang mempelajari bahasa Jepang. Sebagian karena terpengaruh dorama dan anime Jepang, sebagian karena mereka memang mempelajari segala hal tentang Jepang secara akademis, sebagian lagi karena tuntutan pekerjaan. Media-media pun semakin banyak yang menyuguhkan rubrik yang berhubungan dengan Jepang, mulai dari bahasa sampai budaya popularnya. Karena itu, janganlah merasa aneh jika kamu melihat temanmu sering mengucapkan frase-frase dalam bahasa Jepang ketika memulai makan siang atau ketika berkunjung ke rumahmu.

Pengetahuan dan pengertianku tentang kimarimonku ini terasa lebih berkembang selama menjadi mahasiswa. Awalnya kamu akan mempelajarinya bersamaan dengan arti bahasa Indonesia di bawahnya. Setelah itu kamu akan mendengar dan mendengarnya setiap hari jika kamu akhirnya tinggal di Jepang. Kamu lalu memakainya agar kamu diterima lalu setiap kamu pergi ke mana pun kamu mengucapkannya setengah hati lalu merasa pusing karena mendengar ekspresi yang sama terus-menerus, lagi dan lagi, setiap hari. Lalu ketika Buddha berkenan, kamu menemukan pengalaman yang akhirnya membawa makna yang lebih dalam kepadamu.

Ini semua adalah budaya berbahasa Jepang. Kamu tidak bisa benar-benar belajar makna yang lebih dalam dari frase dan ekspresi dalam bahasa Jepang kecuali kamu menenggelamkan diri kamu ke dalam budaya tersebut. Kamu juga harus bisa lepas dari akar budayamu sendiri dan berusaha mengikuti jalan pikiran pemakai budaya tersebut. Dan satu-satunya cara melakukannya adalah tinggal di Jepang selama beberapa tahun. Ini bukan berarti kamu melupakan budayamu sendiri. Ingat, Jepang bisa sedemikian maju karena mereka sangat mengagungkan budaya mereka sendiri dan mempelajari budaya asing lalu mengekstraksi faktor budaya yang sesuai bagi budaya mereka.

Ekspresi-Ekspresi Bahasa Jepang

Itadakimasu : Sebuah ekspresi yang diucapkan tepat sebelum makan. Ini BUKAN doa kecil sebelum makan versi bahasa Jepang. Tidak ada kesamaan sama sekali. Ekspresi ini biasanya dipakai jika kamu menjadi tamu. Menunjukkan apresiasi kepada sang pemilik rumah karena telah repot-repot menyiapkan makanan untukmu. Di rumah, ekspresi ini hanyalah sebuah “pelepas pacuan” yang diartikan sebagai “Selamat makan”. Kata itadaku sendiri berarti menerima. Bentuk yang lebih sopan dari morau.

Gochisousama deshita : Sama pentingnya dengan “Itadakimasu”, frase ini diucapkan sebagai rasa terima kasih kepada sang pemilik rumah setelah menyantap hidangan. Ekspresi ini juga diucapkan dengan sikap yang kurang formal ketika hal pribadi dalam kehidupan seseorang dibagi dalam sebuah percakapan. Jika kamu bermaksud mengungkapkan hal-hal yang menarik tentang bagaimana kali pertama kamu bertemu dengan cinta pertamamu, temanmu akan berterima kasih dengan mengucapkan “Gochisousama deshita”. Bentuk singkatnya adalah gochisou.

Arigatou gozaimasu : Ekspresi yang satu ini adalah salah satu ekspresi yang paling dikenal banyak orang di seluruh dunia. Ungkapan ini senada dengan “Terima kasih” dalam bahasa Indonesia. Ini adalah bentuk sopan dari “Arigatai desu”. Arigatai berarti berutang budi atau berterima kasih. Ekspresi ini merupakan respons jika orang lain memberikan sesuatu atau menolong kamu. Jika kita sudah benar-benar dibantu, kita mengucapkan arigatou gozaimashita. Sedangkan ucapan balasannya adalah dou itashimashite (terima kasih kembali).

Sumimasen : Bangsa Jepang adalah bangsa yang pemalu. Ketika mereka melakukan kesalahan, merasa mengganggu atau menyinggung orang, mereka tak sungkan mengucapkan penyesalannya. Ekspresi ini digunakan sebagai rasa penyesalan mereka atas apa yang mereka lakukan. Frase nonformalnya adalah gomennasai (atau disingkat gomen saja).

Yoroshiku onegai shimasu : Ekspresi ini agak sulit untuk dijelaskan karena sangat mengakar dalam mentalitas dan kebudayaan orang Jepang. Secara bahasa, frase yang paling sering diucapkan ini diartikan sebagai “Saya memohon kepada Anda dengan baik” atau “Tolong perlakukan saya dengan baik”. Ada pula yang mengartikannya sebagai “Tolonglah aku”. Bukan menolong dalam arti “Selamatkan aku dari kesulitan”, tapi lebih mengarah kepada “Jika saya ada masalah, saya mohon bantulah saya”. Namun, secara idiomatis, ungkapan ini diartikan sebagai “Salam kenal”, “Tolong jaga-baik-baik”, “Saya mohon”, “Tolong, ya”. Ekspresi ini sering kali diikuti dengan menundukkan kepala atau badan. Biasanya bentuk nonformal dari ekspresi ini adalah yoroshiku untuk “Salam kenal” dan onegai shimasu untuk “Tolong ya”.

0 comments: